Selasa, 19 Juni 2012



1.                                                                            Pengaruh Waktu Terhadap Prestasi  Belajar Matematik
2.                                                                            a) Ketepatan waktu
3.                                                                            b) Banyanya waktu (lama)
4.                                                                                        Waktu adalah kehidupan. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan. Begitu pentingnya waktu, sampai Allah bersumpah dengan waktu. Wal `ashr, demi masa, kata Allah dalam surat al-Ashr. Allah juga  melalui sumpahnya yang lain dengan menggunakan satuan waktu yang lebih beragam. misalnya, walfajri, demi waktu fajar (al-Fajr:1), wadhdhuha, demi waktu dhuha (Adh-Dhuha:1), wallaili, demi waktu malam (asy-Syams:3), wannahari, demi waktu siang (asy-Syams: 4).
Allah menciptakan waktu dengan maksud dan tujuan tertentu. Waktu siang untuk mencari penghidupan dan waktu malam untuk beristrahat. Waktu siang terdiri dari pagi, siang dan sore hari. Jika waktu dimamfaatkan sebagaimana mestinya maka akan mendatangkan hasil yang memuaskan.
Sesungguhnya di balik perhatian Allah terhadap waktu terdapat pesan penting buat manusia, yaitu agar mereka juga memperhatikan dan mempergunakan waktu sebagaimana mestinya yakni dengan beribadah secara total dan ikhlas kepada-Nya. Tentu saja untuk bisa memperlakukan waktu dengan semestinya itu harus ada pemahaman yang benar tentang keberadaan dan hakikatnya bagi kehidupan manusia.
                 Adanya waktu yang digunakan untuk belajar matematika di dalam kelas telah diatur oleh sekolah dalam bentuk jadwal pelajaran matematika.Karena belajar matematika meliputi observasi, analogi dan manipulasi simbol-simbol untuk memahami konsep-konsep sehingga terjadi pengertian, maka jelaslah bahwa untuk belajar matematika memerlukan waktu yang cukup banyak. Dr. I. G. Ngurah agung mengemukakan bahwa banyaknya waktu yang digunakan untuk belajar matematika akan meningkatkan efektivitas proses belajar matematika yang terjadi di dalam diri setiap murid. (Arsyad, : 14)
                  Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, waktu pelaksanaan proses belajar mengajar tersebut juga berperan dan mempengaruhi proses belajar siswa. Dengan demikian, penggunaan waktu yang tepat dapat memaksimalkan keterlibatan siswa dalam PBM.Menurut Sujanto bahwa pelajaran yang berat (membutuhkan konsentrasi tinggi) sebaiknya diberikan pada pagi hari dan yang ringan diberikan pada sesudah anak payah (siang hari). (Sujanto; 2006 : 94) Waktu yang tepat bagi siswa adalah waktu dimana siswa merasa siap untuk belajar dan memiliki semangat yang kuat untuk mengikuti pelajaran PBM yang dilaksanakan pagi hari cenderung berdampak baik pada motivasi dan semangat siswa dibandingkan PBM pada siang hari.
                 Keseimbangan antara waktu pembelajaran dengan materi pelajaran juga saling berpengaruh.Idealnya, materi pelajaran matematika yang tinggi harus disampaikan dengan waktu yang lebih lama dibandingkan materi yang mudah. Hal ini dilakukan agar terdapat keseimbangan dengan proses belajar siswa. Siswa jadi memiliki cukup waktu untuk memahami materi yang disampaikan guru dan menjadikannya lebih terlibat karena alokasi waktu yang disiapkan untuk proses pembelajaran sesuai tingkat kemampuan mereka.
                 Berdasarkan uraian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan waktu yang dialokasikan dalam bentuk jam-jam pelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran adalah proses pembelajaran yang ideal, yang akan menciptakan proses pembelajaran yang optimal, sehingga hasil belajar yang optimal akan dicapai lebih baik.
15.  Pelajaran Awal dan waktu Dhuha
                 Waktu belajar  matematika dapat terjadi pagi hari, siang , sore dan malam hari. Jika ada siswa yang terpaksa belajar, hasilnya kurang dapat dipertanggungjawabkan. Mnururt Slameto “ siswa yang belajar dipagi hari , pikiran masih segar, jasmani dalam kondisi yang baik. Jika siswa bersekolah pada waktu kondisi badannya sudah lelah/lemah, misalnya pada siang hari, akan mengalami kesulitan di dalam menerima plajaran.(Slamto : 68)

1.                                                                                          
16.       Jam Pelajaran Akhir  dan waktu  Istirahat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلاةِ الْعِشَاءِ ثَلاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
                        Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(Q.S. An Nur : 58)

Ayat di atas berbicara tentang sopan santun pergaulan , agar hendaklah mereka semua meminta izin kepada kamu pada tiga kali yakni tiga waktu dalam satu hari. Mnurut M. Quraish Shihab “ Ketiga waktu itu yaitu : yang pertama sebelum sholat subuh, karena ketika itu adalah waktu bangun tidur di mana pakaian sehari-hari belum dipakai. Yang kedua, ketika kamu menanggalkan pakaian luar kamu di tengah hari karena akan berbaring atau beristrahat dan yang ketiga, adalah sesudah shalat isya’ sampai sepanjang malam karena ketika itu kamu sudah beriap tidur atau sedang tertidur (M. Quraish Shihab : 395)

            Jika seseorang belajar secara maksimal dari pagi hari maka dia  membutuhkan istriahat pada siang harinya (jam pelajaran akhir) Akibatnya siswa yang belajar pada jam pelajaran akhir (siang hari) hasilnya tidak optimal  dibandingkan dengan siswa yang belajar pada pagi hari (jam pelajaran awal)
.   Berdasarkan uraian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan waktu yang dialokasikan dalam bentuk jam-jam pelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran adalah proses pembelajaran yang ideal, yang akan menciptakan proses pembelajaran yang optimal, sehingga hasil belajar yang optimal akan dicapai lebih baik.
           
           

PRESTASI BELAJAR


Faktor-faktor yang mempengaruhi Perbedaan prestasi Belajar Matematika.
                                  Menurut  Muhibbin Syah (Muhibin Syah, 2008), berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
a)      Faktor Internal (faktor dari dalam diri siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani atau rohani siswa.
b)      Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan sekitar siswa.
c)       Faktor Pendekatan Belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.[1]
Adapun yang tergolong faktor internal adalah :
            (a)   Faktor Fisiologis :Keadaan fisik yang sehat, segar dan kuat.  
 (b)   Faktor Psikologis         
 (a)   Intelegensi
 (b)   Perhatian
 (c)   Minat
 (d)   Motivasi
 (e)   Bakat
           Adapun yang termasuk golongan faktor eksternal adalah :
       (a)  Faktor Sosial, yang terdiri dari :
 1)  Lingkungan keluarga
 2)  Lingkungan sekolah
 3)  Lingkungan masyarakat
       (b)  Faktor Non Sosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial adalah   gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.  
(c)  Faktor Pendekatan Belajar
       Pendekatan belajar adalah segala cara atau strategi yang digunakan  
siswa dalam menunjang  efektifitas  dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu.[2]

Menurut Muhibin Syah Pendekatan belajar adalah segala cara atau strategi yang digunakan  siswa dalam menunjang  efektifitas  dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu.[3]
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan prestasi belajar matematika ada beberapa faktor yang termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi belajar itu sendiri. Sehubungan dengan itu, maka penulis akan  menklasifikasikan dalam dua kategori besar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor ini akan dibahas sesara  terpisah berikut ini :
1.        Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Faktor-faktor yang  mempengaruhi belajar adalah faktor intern dan faktor ekstern, sebagai berikut :
a)        Faktor Internal    
Faktor internal adalah faktor yang bersumber dari dalam diri seseorang, yang  pengaruhnya sangat besar terhadap sikap seseorang. Adapun faktor-faktor internal adalah kesehatan, bakat atau kemampuan, intelegensi, motivasi dan sikap untuk lebih jelasnya dapat dilihat sebagai berikut:
       
(a)                         Faktor jasmaniah
      (1)  Faktor kesehatan
Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan sesorang terganggu. Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekerja, tidur, makan, olahraga dan rekreasi
Menurut Noehi Nasution, Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan minat belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan atau sakit dan sebagainya. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah kondisi panca indra (cacat tubuh) terutama mata dan telinga. Sebab sebagian besar yang dipelajari oleh peserta didik berlangsung dengan membaca dan menyimak (melihat dan mendengar)[4]. Sehubungan dengan itu keadaan fisik yang sehat dan segar serta kuat akan menguntungkan dan memberikan hasil belajar yang baik. Tetapi keadaan fisik yang kurang baik akan berpengaruh tidak baik pada siswa.
(2)   Cacat tubuh
Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar, siswa yang cacat belajarnya juga terganggu. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya itu.
(b)   Faktor psikologis
(1)     Intelegensi
Setiap orang yang dilahirkan membawa kemampuan dasar yang berbeda. Perbedaan kemampuan akan berbeda pula dalam menghadapi masalah dan cara, sangat tergantung pada taraf intelegensi yang dimilikinya. Semakin tinggi inteligensi yang dimiliki oleh seseorang semakin cepat dalam menyelesaikan masalah, demikian pula sebaliknya.  Menurut Muhammad Dalyono dalam Syaiful Bahri Djamarah, bahwa:  Seorang yang memiliki inteligensi baik  (IQ-nya tinggi)  umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung baik. Sebaliknya, orang yang inteligensinya rendah, cenderung mengalami kesukaran dalam belajar, lambat berpikir, sehingga  minatnya terhadap materi pelajaran rendah.[5]
             Potensi dasar yang dimiliki seseorang berkaitan dengan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia berada. Hal ini dapat mempermudah dalam menentukan pilihan yang lebih sesuai dengan kemampuannya, pilihan pekerjaan yang paling cocok dapat dilihat dari aspek-aspek yang menonjol dari pribadi seseorang. 
Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat dipahami bahwa intelegensi adalah salah satu kesanggupan individu yang dapat diarahkan pada situasi-situasi tertentu, sehingga ia dapat berimplikasi pula terhadap pemilihan objek atau bidang-bidang yang disenangi.
        Seorang yang memiliki intelegensi rata-rata di bawah standar akan turut mempengaruhi minat seseorang melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi. Sebaliknya orang yang mempunyai intelegensi di atas rata-rata turut pula mewarnai terhadap pemilihan suatu objek atau bidang - bidang yang lain. Oleh karena itu, intelegensi merupakan salah satu faktor psikis yang dapat mempengaruhi seseorang untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi. 
Siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang normal dapat berhasil dengan baik dalam belajar, jika ia belajar dengan baik, artinya belajar dengan menerapkan metode belajar yang efisien.
(2)     Perhatian
Agar siswa dapat belajar dengan baik, usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobi atau bakatnya.
(3)     Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan.Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus disertai dengan rasa senang. Para ahli telah memberikan batasan pengertian tentang minat, diantaranya Slameto mengemukakan bahwa “minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh”.[6] Menurut Crow and Crow dalam Djaali (Djaali, 2008), bahwa minat berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang diransang oleh kegiatan itu sendiri.[7] Sedangkan menurut Mahfudh Shalahuddin (mahfudh, 1990), bahwa minat adalah “perhatian yang mengandung unsur-unsur perasaan, minat adalah menentukan suatu sikap yang menyebabkan seorang berbuat aktif dalam suatu pekerjaan”.[8] Muhibbin Syah menjelaskan bahwa “Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu”.[9]
 Berdasarkan definisi-definisi di atas, dipahami bahwa minat adalah merupakan suatu aspek kejiwaan yang sangat mendasar dalam diri seseorang dan menduduki peranan yang sangat penting dalam segala aktivitas manusia dalam hidup dan kehidupannya yang dapat mewarnai aktivitas seseorang. Dan dapat juga dipahami bahwa minat merupakan suatu motivasi atau dorongan yang kuat terhadap suatu obyek atau kegiatan yang membuat orang tertarik. Pada umumnya obyek yang menarik,  bernilai dan berharga bagi diri seseorang. Dengan demikian minat merupakan suatu reaksi yang terarah kepada suatu tujuan atau kepada tanggapan yang menarik. Peranan minat dalam melakukan aktivitas atau kegiatan merupakan faktor yang sangat utama dalam diri seseorang dan dapat mewarnai perilaku manusia.
(4)     Bakat
Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Perbedaan itu terlihat saat melakukan kegiatan dan orang yang cepat menguasianya akan menonjol prilakunya secara positif terhadap pekerjaan tersebut, maka ia dapat dikatakan berbakat terhadap kegiatan itu. Bakat ada yang terpendam dan ada yang berkembang, sedangkan bakat yang dapat  dikembangkan menjadi suatu kelebihan yang ditampilkan seseorang. 
                  Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yag akan datang[10]. Menurut Muhammad Asrori ( Asrori, 2008), bahwa
 “orang yang memiliki bakat matematika dapat diprediksikan mampu mencapai  prestasi yang menonjol dalam bidang metematika. Prestasi yang menonjoldalam bidang matematika itu merupakan cerminan dari bakat khusus yang dimiliki dalam bidang tersebut.. Bakat itu bersfat potensial, maka seseorang yang berbakat belum tentu mampu mencapai prestasi yang tinggi dalam bidangnya kalau tidak memperoleh ksempatan untuk mengembangkan bakatnya scara maksimal”
. Sesuatu potensi yang dibawa lahir kemudian dikembangkan oleh lingkungan melalui berbagai kegiatan. Bakat seseorang tidak akan terealisir tanpa ada lingkungan yang merangsangnya. Lingkungan yang merangsang akan menimbulkan bakat terorganisir dengan  serta dapat mempercepat perkembangan bakat itu sendir.
         Dari pengertian tersebut, dapat memberikan gambaran bahwa bakat adalah salah satu faktor psikologis yang dibawa sejak lahir yang merupakan potensi yang berisi kemungkinan untuk berkembang ke satu arah. Oleh karena itu, bakat memegang peranan dalam kegiatan atau proses penentuan pilihan. Bakat merupakan salah satu aspek psikis manusia dan merupakan pembawaan seseorang sejak lahir akan mempermudah seseorang berhasil dalam suatu  usaha atau kegiatan. B
(5)     Motif
Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif itu sendiri sebagai daya penggerak / pendorong.
(6)     Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat / fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Belajarnya akan lebih berhasil jika anak sudah siap (matang).
(7)     Kesiapan
Kesediaan untuk memberi response atau bereaksi.Kesediaan itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kegiatan.

(c)  Faktor kelelahan
Kelelahan itu mempengaruhi belajar.Agar siswa dapat belajar dengan baik haruslah menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya.Sehingga perlu diusahakan kondisi yang bebas dari kelelahan.
Menurut Slameto (Slameto:60), kelelahan baik secara jasmani maupun rohani dapat dihilangkan dengan cara-cara sebagai berikut :
(1) tidur
 (2) istirahat
(3)  mengusahakan variasi dalam belajar, juga dalam bekerja
(4) menggunakan obat-obatan yang bersifat melancarkan peredaran     darah,  
     misalnya obat gosok.
(5) rekreasi dan ibadah yang teratur
(6) olah raga secara teratur, dan
(7) mengimbangi makan dengan makanan yang memenuhi syarat-
        syarat kesehatan, misalnya memenuhi empat sehat lima sempurna
(8)   jika kelelahan sangat serius cepa-cepat menghubungi seorang   ahli, misalnya dokter, psikiater, konselor dan lain-lain


b)        Faktor-faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang bersumber dari luar diri seseorang. Faktor eksternal yang ikut mempengaruhi seseorang antara lain:
(a)      Faktor keluarga
(1)     Cara orang tua mendidik
              Cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap belajar anaknya.Oleh karena itu keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan untuk pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.
Tanggung jawab pendidikan yang perlu dibina oleh kedua orang tua terhadap anak antara lain :
(1)     Memelihara dan membesarkannya, ini adalah tanggung jawab paling      sederhana bagi orang tua dan merupakan dorongan alami bagi  kelangsung hidup manusia secara umum.
(2)     Melindungi dan menjamin kesehatannya, baik jasmani maupun  rohani dari gangguan penyakit/bahaya lingkungan yang dapat membahayakan dirinya.
(3)      Memberi pengajaran yang sangat luas sehingga anak dapat mencapai ilmu
       pengetahuan yang luas dan tinggi.
(4)      Membahagiakan anak dunia dan akhirat, material maupun spiritual sesuai
        dengan pandangan hidup muslim.[11]

         Kesadaran akan tanggung jawab mendidik dan membina anak secara terus menerus perlu dikembangkan kepada setiap orang tua, mereka juga perlu dibekali teori-teori pendidikan modern sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan demikian tingkat dan kualitas materi pendidikan yang diberikan dapat digunakan anak untuk menghadapi lingkungan yang selalu berubah. Apabila hal ini dapat dilakukan oleh setiap orang tua, maka generasi mendatang telah mempunyai  kekuatan mental menghadapi perubahan dalam masyarakat.

(b)     Relasi antaranggota keluarga
              Demi kelancaran belajar serta keberhasilan anak, perlu diusahakan relasi yang baik di dalam keluarga anak tersebut.Hubungan yang baik adalah hubungan yang penuh pengertian dan kasih sayang disertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman-hukuman untuk menyukseskan belajar anak sendiri.
(c)      Suasana rumah
Suasana rumah dimaksudkan sebagai situasi atau kejadian-kejadian yang sering terjadi didalam keluarga dimana anak berada dan belajar.Didalam suasana rumah yang tenang dan tentram selain anak kerasan / betah tinggal di rumah, anak juga dapat belajar dengan baik.
(d)Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi erat hubungannya dengan belajar anak.Anak yang sedang
belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, juga membutuhkan fasilitas belajar.
(e)  Pengertian orang tua
Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya, membantu sedapat mungkin kesulitan yang dialami anak di sekolah
(f)                Latar belakang kebudayaan
Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar.
b)        Faktor Sekolah
Sekolah merupakan lingkungan aktivitas yang sengaja diciptakan untuk membina siswa ke arah tujuan tertentu, khususnya untuk memberikan kemampuan dan keterampilan sebagai bekal kehidupan di kemudian hari. Oleh karena itu sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal harus menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilannya. Dalam proses pendidikan di sekolah kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Banyak hal yang mempengaruhi keberhasilan belajar, yaitu banyaknya sarana dan prasarana pendidikan seperti sekolah itu sendiri dan alat alat pembelajaran. Faktor guru dan cara mengajarnya juga tidak dapat dilepaskan dari ada tidaknya dan cukup tidaknya alat alat pelajaran yang tersedia disekolah. Sekolah yang cukup memiliki alat alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar, ditambah kecakapan guru dalam menggunakan alat alat itu, akan mempermudah dan mempercepat belajar siswa.
Bagi siswa pendidikan jalur sekolah yang diikutinya dipandang sebagai lembaga yang banyak berpengaruh terhadap terbentuknya konsep yang berkenaan dengan nasib mereka dikemudian hari. Oleh karena itu, siswa harus memikirkan  dalam memilih dan mendapatkan sekolah yang mampu memberikan peluang, baik dari diri siswa maupun terhadap masyarakat dan bangsanya dikemudian hari. Pandangan ini disadari oleh berbagai faktor seperti ekonomi dan faktor sosial budaya. Keserasian antara rumah dengan sekolah dalam mengatasi peribadi anak menjadi tuntutan mutlak, Sekolah merupakan tempat rujukan yang mempunyai peran sangat penting dan mempunyai kedudukan yang amat agung. Karena sekolah sebagai sumber ilmu dan bekal tempat menimbah ilmu.[12]
Berdasarkan keterangan di atas, maka sekolah menjadi sangat penting
untuk memenuhi kekurangmampuan keluarga dalam mendidik anak. Kebudayaan hidup yang semakin kompleks, menuntut anak untuk mengetahui berbagai macam hal penemuan ilmiah, maka perlu ada kerja sama antara keluarga dan sekolah serta masyarakat untuk mengarahkan ke hal yang positif. sehingga mampu mengenal makna kehidupan yang sebenarnya. Sedangkan terwujudnya fungsi sekolah bagi pembinaan dan pendidikan harus didasari saling kerja sama dengan lembaga-lembaga lainnya.
(a)    Metode mengajar
Metode mengajar adalah suatu cara / jalan yang harus dilalui dalam mengajar. Dalam proses belajar agar dapat menerima, menguasai dan lebih-lebih mengembangkan bahan pelajaran itu, maka cara-cara mengajar serta cara belajar haruslah setepat-tepatnya dan seefisien serta seefektif mungkin.
(b)   Kurikulum
Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa.Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu.
(c)    Relasi guru dengan siswa
Proses belajar mengajar terjadi antara guru dengan siswa. Proses tersebut juga dipengaruhi oleh relasi yang ada. Di dalam relasi (guru dan siswa) yang baik, siswa akan menyukainya (guru), juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikannya sehingga siswa berusaha mempelajari sebaik-baiknya begtupun sebaliknya.
(d)   Relasi siswa dengan siswa
Jika jiwa kelas tidak terbina dengan baik, maka hubungan masing-masing individu tidak tampak.
(e)    Disiplin sekolah
Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam belajar.Seluruh staf sekolah yang mengikuti tata tertib dan bekerja dengan disiplin membuat siswa menjadi displin pula, selain itu juga member pengaruh positif terhadap belajarnya. Dalam proses belajar, siswa perlu didsiplin, untuk mengembangkan motivasi yang kuat.
(f)    Alat pelajaran
Mengusahakan alat pelajaran yang baik dan lengkap adalah perlu agar dapat mengajar dengan baik sehingga siswa dapat menerima pelajaran dengan baik serta dapat belajar dengan baik pula.
(g)   Waktu sekolah
Waktu sekolah ialah waktu yang terjadinya proses belajar mengajar di sekolah. Waktu itu dapat pagi hari, siang, sore / malam hari, waktu sekolah juga mempengaruhi belajar siswa. Jika terjadi siswa terpaksa masuk sekolah di sor hari, sebenarnya kurang dapat dipertanggunjawabkan.
(h)   Standard pelajaran di atas ukuran
Guru dalam menuntut penguasaan materi harus sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing. Yang penting tujuan yang telah dirumuskan dapat dicapai.
(i)     Keadaan gedung
(j)     Metode belajar
Perlunya belajar secara teratur setiap hari, dengan pembagian waktu yang baik, memilih cara belajar yang tepat dan cukup istirahat akan meningkatkan hasil belajar
(k)   Tugas rumah
Diharapkan guru jangan terlalu banyak memberi tugas yang harus dikerjakan di rumah, sehingga anak tidak mempunyai waktu lagi untuk kegiatan yang lain.
c)      Faktor masyarakat
                  Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa.Pengaruh itu terjadi karena keberadaannya siswa dalam masyarakat. Hal yang mempengaruhi belajar siswa  adalah kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat Hal-hal yang dapat mempengaruhi siswa dalam masyarakat seperti : mass media, games, internet,  teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat yang semuanya mempengaruhi belajar.
Anak adalah generasi penerus yang dimasa depannya akan menjadi anggota masyarakat secara penuh dan mandiri. Oleh karena itu, seorang anak sejak kecil harus sudah mulai belajar bermasyarakat, agar nanti dia dapat tumbuh
dan berkembang menjadi manusia yang dapat menjalankan fungsi-fungsi sosialnya. Masyarakat adalah tempat hidup anak sebagai individu yang memberikan kemungkinan kepada anak untuk menjadi maju dan berkembang. Baik buruknya kehidupan masyarakat tergantung kepada masyarakat itu sendiri.
Karena anak lahir, dibesarkan dan dididik dalam masyarakat, maka pertumbuhanya pun secara langsung dan tidak langsung dipengaruhi oleh lingkungan sosial di mana anak itu hidup bermasyarakat. Dalam mendidik anak, masyarakat mempunyai pengaruh yang besar, menyangkut hal-hal sebagai konsekuensi interaksi sebagai berikut:
(1)      Anak akan mendapatkankan pengalaman langsung setelah memperhatikan  apa yang terjadi di masyarakat.
(2)      Membina anak-anak itu berasal dari masyarakat dan akan kembali    kemasyarakat setelah dididik oleh masyarakat.
(3). Masyarakat dapat menjadi sumber pengetahuan.
(4)   Masyarakat juga membutuhkan orang-orang terdidik dan anakpun  juga membutuhkan masyarakat (untuk mengembangkan dirinya).
Jadi orang tua dalam mendidik anak erat hubungannya dengan masyarakat dan lembaga-lembaga sosial pada porsi yang berbeda-beda yang diharapkan agar ketiganya dapat menjalankan fungsinya masing-masing menuju ke arah yang positif.
4) Faktor Sosial Ekonomi
Tak dapat disangkal lagi bahwa keberadaan faktor sosial ekonomi dari individu memberi pengaruh langsung terhadap kecenderungan seseorang dalam menentukan suatu objek yang ingin ditekuninya, hal ini akan tampak semakin jelas bilamana mengingat andil yang diperankan oleh factor sosial ekonomi.
Dari berbagai sumber dapat diketahui betapa besar peran yang diemban oleh faktor tersebut dalam menentukan pendidikan terhadap sesuatu objek tertentu. Keterbatasan pada faktor sosial ekonomi yang berbeda akan memberikan pengaruh yang cukup besar dalam menentukan arah perhatian seseorang terhadap suatu objek. 
Perbedaan latar belakang social ekonomi  seseorang akan turut mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Pengaruh akan jelas nampak dalam pola tingkah lakunya sendiri dalam menempuh alam kehidupannya. Adanya pendidikan yang terarah serta situasi social ekonomi yang menunjang dan berjalan secara dinamis dan selaras dalam suatu keluarga akan turut memberikan dorongan kepada keaktifan belajar seorang anak, sehingga kegiatan anak untuk mengembangkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi meningkat.
Mengacuh pada uraian tersebut di atas, dapat dipahami bahwa adanya variasi latar belakang sosial ekonomi dan sosial budaya seseorang akan memberikan dampak tersendiri terhadap jiwa individu itu dalam usaha memilih mengarahkan serta menentukan keinginannya untuk melibatkan diri pada suatu obyek atau aktivitas tertentu. Dengan kata lain bahwa adanya perbedaan latar belakang tingkat sosial ekonomi menyebabkan terjadinya perbedaan tingkat pendidikan seseorang terhadap obyek tertentu.
Keadaan kemampuan sosial ekonomi keluarga menjadi salah satu pendukung utama dalam mengarahkan serta mengembangkan keinginannya dan tidak jarang dijumpai pula justru menjadi penghambat bagi seseorang untuk mengarahkan perhatiannya terhadap obyek tertentu dalam kegiatan belajar walaupun sebenarnya impian seseorang terhadap obyek tersebut cukup tinggi.
            Pada akhir tahun dan awal tahun ajaran menunjukkan bahwa faktor social ekonomi menentukan sebagai penyebab utama putus sekolah dan mengecilnya arus siswa memasuki sekolah yang lebih tinggi karena biaya yang harus dibayar orang tua untuk menyekolahkan anaknya memang sangat besar. 
Berdasarkan keseluruhan uraian tersebut di atas, disimpulkan bahwa adanya variasi tingkat social ekonomi seseorang mempunyai pengaruh terhadap tingkatan pengetahuan seseorang dalam melakukan suatu aktivitas. Dengan kata lain, adanya perbedaan dalam tingkat penghasilan orang tua atau penghasilan seseorang., perbedaan tingkat pendidikan memberi pengaruh seseorang dalam usaha memenuhi keinginannya.
5. Waktu
Banyaknya waktu yang digunakan oleh individu dapat membantu dalam belajarnya.
Ketepatan waktu dalam belajar\





[1]Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008 )., h. 139
  [2]Lihat Muhibin Syah, Ibid., h. 140
  [3]Lihat Muhibin Syah, Ibid., h. 140
[4]Noehi Nasution, Materi Pokok Psikologi Pendidikan (Jakarta: Universitas Terbuka, 1993), h.6.

[5]Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Cet. II; Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 194.
[6]Slameto, Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, Edisi Revisi (Cet.IV; Rineka Cipta, 2003), h. 180.
[7]Djaali, Psikologi Pendidikan (Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 121.
[8]Mahfudh Shalahuddin, Pengantar Psikologi Pendidikan (Cet. I; Surabaya: Bina Ilmu, 1990), h. 95.
[9]Muhibbin Syah, Op. cit, h. 136.

[10]Lihat Muhibin Syah, Loc. Cit, h. 223

           [11]Khaeruddin, Ilmu Pendidikan Islam. (Makassar: Yayasan Pendidikan Fatiya,2002), h.102-103
[12]Muhammad Ali Quthub, Sang anak dalam naungan Pendidikan Islam, alih bahasa, Abu Bakar Ihsan (Bandung Diponegoro 2003), h.92